Shop

Arrow Right

My Cart

Arrow Right

Pahami Makna Quiet Quitting yang Sempat Viral di Tiktok!

Pelajari apa itu Quiet Quitting dalam dunia kerja & penyebabnya. Temukan solusi untuk mengatasi fenomena ini dan tingkatkan kinerja tim Anda.

A journalism graduate now navigating the SEO landscape, I blend journalistic insight with a witty, engaging style, ensuring content is as captivating as it is search-optimized.

Posted: Monday, Feb 12, 2024

Ditinjau oleh Mentor MyEduSolve

Share:

Pahami Makna Quiet Quitting yang Sempat Viral di Tiktok! cover

Pernahkah kamu mendengar istilah quiet quitting yang viral di aplikasi TikTok pada tahun 2022 silam?

Istilah quiet quitting ini dipopulerkan oleh seorang user TikTok asal Amerika Serikat bernama Zaid Leppin dan kemudian istilah ini jadi cukup dikenal di kalangan generasi milenial dan Gen Z.

Memangnya apa pengertian quiet quitting? Kalau kamu tertarik mencari tahu arti quiet quitting lebih jauh, yuk simak artikel ini sampai selesai!

Pengertian Quiet Quitting

Istilah quiet quitting memiliki pengertian sebuah perilaku seseorang yang berusaha mengurangi beban kerjanya, seperti tidak lagi mengambil lembur atau menolak mengerjakan proyek di luar tanggung jawabnya.

Menerapkan konsep quiet quitting bukan berarti melepas tanggung jawab atau berhenti dari pekerjaan. Orang yang menerapkan quiet quitting tetap menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang diberikan pada mereka, tapi mereka tidak melakukan sesuatu yang ekstra agar hidup mereka tidak habis pada pekerjaan.

Konsep quiet quitting ini mulai muncul di masa pandemi akibat banyaknya karyawan yang mengeluhkan pekerjaan dan tugas mereka semakin banyak tanpa batasan waktu yang jelas selama work from home.

Ditambah lagi pada momen tersebut, Tiongkok sedang mengalami isu sosial overwork yang membuat masyarakatnya mengalami stres akibat bekerja terlalu keras. Budaya baru quiet quitting pun dengan cepat langsung menjadi pembicaraan.

Dalam konsep quiet quitting ini, karyawan ingin mengembalikan jam kerja dan kehidupan kerja yang normal supaya terjadi keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan personal atau yang dikenal juga dengan istilah work life balance.

Jadi, orang yang setuju dan menerapkan konsep quiet quitting ini tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja saja. Namun, mereka juga menyempatkan waktu untuk istirahat dan bersantai sepulang kerja.

Sayangnya, tidak semua orang setuju dengan gaya hidup yang diinisiasi generasi milenial dan Gen Z ini. Mengutip dari laman Kompas, seorang pakar bernama Pattie Ehsaei menentang budaya quiet quitting dan beranggapan orang yang menerapkan konsep hidup ini akan memperkecil peluang untuk berhasil di tempat kerja.

Kemudian, Ehsaei juga menambahkan budaya quiet quitting menormalkan hal-hal wajar yang perlu dilakukan di kantor. Dengan mempraktekkan quiet quitting justru akan memberikan dampak negatif pada karir, sebab mereka akan kesulitan naik gaji atau pangkat.

Baca juga: Fenomena Quiet Quitting, Apakah Itu dan Mengapa Bisa Terjadi?

Pemicu Munculnya Budaya Quiet Quitting

Kemunculan budaya quiet quitting tidak terjadi begitu saja. Terdapat sejumlah masalah sosial yang akhirnya menimbulkan quiet quitting.

  1. Beban kerja yang terlalu berlebihan atau overwork.

  2. Jumlah gaji yang tidak sebanding dengan beban kerja yang diberikan, sehingga muncul perasaan tidak dihargai.

  3. Tidak adanya batasan antara kehidupan personal dengan kehidupan kerja. Artinya, karyawan masih harus berkutat dengan pekerjaan meskipun di luar jam kerja.

  4. Lingkungan kerja yang tidak mendukung, sehingga terjadi demotivasi kerja dan berimbas pada performa kerja yang menurun.

  5. Tuntutan pekerjaan yang tidak masuk akal. Biasanya karyawan diminta mengerjakan tugas lain yang berada di luar kesepakatan kerja.

  6. Komunikasi antara atasan dan bawahan tidak terjalin baik.

Baca juga: 7 Alasan Resign yang Masuk Akal dan Profesional

Pertimbangan Melakukan Quiet Quitting

Promosi budaya hidup quiet quitting tidak sepenuhnya salah, karena manusia memang butuh istirahat agar tidak mudah stres dan tetap bisa menjaga produktivitasnya di kantor.

Untuk kamu yang tertarik menerapkan gaya hidup quiet quitting ini, sebaiknya perlu melihat beberapa pertimbangan terlebih dulu sebelum mulai menerapkannya secara permanen.

Kamu perlu memetakan rencana masa depanmu dengan matang. Apabila kamu bergantung penuh pada pekerjaanmu yang sekarang untuk menabung dan menyiapkan dana pensiun, maka tidak dianjurkan untuk melakukan quiet quitting.

Berdasarkan kutipan di laman Kompas, seorang psikolog berpendapat jika budaya hidup quiet quitting ini sebaiknya diterapkan jika kamu sudah berencana ingin benar-benar berhenti dari pekerjaan. Jadi, perilaku quiet quitting ini diperlihatkan sebagai sinyal keinginan untuk resign.

Baca juga: Apa itu Personal Branding dan Manfaatnya dalam Dunia Kerja

Contoh-Contoh Tindakan yang Mencerminkan Quiet Quitting

Sebetulnya terdapat beberapa tindakan yang mencerminkan perilaku quiet quitting secara tidak langsung. Penasaran seperti apa tindakan-tindakan yang terhitung quiet quitting? Yuk, simak!

  1. Checking-Out

Checking-out merupakan perilaku sinis yang diperlihatkan karyawan di kantor dan diikuti dengan penurunan performa kerja. Namun, perilaku checking-out ini biasanya dipengaruhi oleh jumlah gaji yang diterima pegawai. Artinya, karyawan yang tidak dibayar besar cenderung tidak maksimal saat bekerja.

  1. Mogok Kerja Parsial

Mogok kerja sejak dulu sudah menjadi budaya kerja klasik yang dilakukan buruh supaya suara mereka didengar oleh jajaran direksi perusahaan. Namun, di masa kini mogok kerja dilakukan tidak secara terang-terangan.

Zaman sekarang banyak karyawan menolak lembur dan tidak mau mengerjakan tugas lain di luar tanggung jawabnya sebagai bentuk mogok kerja parsial. Tujuannya untuk menarik atensi atasan, meminta kompensasi, hingga meminta validasi.

  1. Taking Charge

Jika dibandingkan dengan dua perilaku sebelumnya taking charge menjadi bentuk lain dari quiet quitting yang paling positif. Taking charge adalah tindakan mengambil alih, mengontrol, dan memelihara keseimbangan hubungan kerja.

Alih-alih membatasi pekerjaan dan mengerjakan tanggung jawab seperlunya, pada perilaku taking charge ini memperlihatkan komitmen karyawan pada pekerjaannya tetapi secara tegas membuat batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Selama jam kerja karyawan dapat bekerja maksimal dan menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Namun, ketika di luar jam kerja, ia fokus pada hal lain terkait kehidupan personalnya, seperti kesehatan, hubungan, keluarga, hobi, kesejahteraan, dan sebagainya.

Untuk mempraktekkan perilaku taking charge membutuhkan kebiasaan yang tentunya tidak mudah bagi sebagian orang. Mulai dari berani mengatakan tidak, belajar manajemen waktu, serta berkomitmen pada diri sendiri untuk selalu disiplin.

Itu dia informasi seputar quiet quitting yang sempat viral di TikTok beberapa waktu lalu. Kalau kamu sedang mengalami kesulitan di tempat kerja, kamu bisa berkonsultasi dengan profesional secara gratis menggunakan fitur #TalkToDIAN yang ditawarkan MyEduSolve.

Sumber:

Mengenal Istilah Quiet Quitting, Pengertian, dan Penyebabnya https://katadata.co.id/agung/ekonopedia/635025f0bf7ff/mengenal-istilah-quiet-quitting-pengertian-dan-penyebabnya  (Diakses Januari 2024)

Quiet Quitting: A Proper Guide to a Very Real Trend  https://www.personio.com/hr-lexicon/quiet-quitting/ (Diakses Januari 2024)


Related Tags

quiet quitting

92

Suggest a Topic

What topics are you interested in learning more about? We want to hear from you! Share with us your feedback and article suggestions for our blog.